11/05/13

PROPOSAL SKRIPSI : UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN PRAGMATIK


UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN PRAGMATIK PADA SISWA
SMPN 13 BANDA ACEH

1.             Latar Belakang
Salah satu aspek keterampilan melahirkan generasi masa depan yang cerdas, kritis, kreatif, dan berbudaya adalah keterampilan berbicara. Dengan menguasai keterampilan berbicara, peserta didik akan mampu mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara berbahasa yang sangat penting peranannya dalam upaya cerdas sesuai konteks dan situasi pada saat dia sedang berbicara. Keterampilan yang komunikatif, jelas, runtut, dan mudah dipahami. Selain itu, keterampilan berbicara juga akan mampu kreatif sehingga mampu melahirkan tuturan atau ujaran yang melahirkan generasi masa depan yang kritis karena mereka memiliki kemampuan untuk mengekspresikan berbicara juga akan mampu membentuk generasi masa depan dengan gagasan, pikiran, atau perasaan kepada orang lain secara runtut dan sistematis. Bahkan, keterampilan berbicara juga akan mampu melahirkan generasi masa depan yang berbudaya karena sudah terbiasa dan terlatih untuk berkomunikasi dengan pihak lain sesuai dengan konteks dan situasi tutur pada saat dia sedang berbicara Namun, harus diakui secara jujur, keterampilan berbicara di kalangan siswa SMP, khususnya keterampilan berbicara, belum seperti yang diharapkan. Kondisi ini tidak lepas dari proses pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah yang dinilai telah gagal dalam membantu siswa terampil berpikir dan berbahasa sekaligus. Yang lebih memprihatinkan, ada pihak yang sangat ekstrim berani mengatakan bahwa tidak ada mata pelajaran Bahasa Indonesia pun siswa dapat berbahasa Indonesia seperti saat ini, asalkan mereka diajari berbicara, membaca, dan menulis oleh guru (Depdiknas 2004:9).
Sementara itu, hasil observasi empirik di lapangan juga menunjukkan fenomena yang hampir sama. Keterampilan berbicara siswa SMP berada pada tingkat yang rendah; diksi (pilihan kata)-nya payah, kalimatnya tidak efektif, struktur tuturannya rancu, alur tuturannya pun tidak runtut dan kohesif.
Demikian juga keterampilan berbicara siswa SMPN 13 Banda Aceh. Berdasarkan hasil observasi, hanya 20% (8 siswa) dari 40 siswa yang dinilai sudah terampil berbicara dalam situasi formal di depan kelas. Indikator yang digunakan untuk mengukur keterampilan siswa dalam berbicara, di antaranya kelancaran berbicara, ketepatan pilihan kata (diksi), struktur kalimat, kelogisan (penalaran), dan kontak mata.
Paling tidak, ada dua faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat keterampilan siswa dalam berbicara, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Yang termasuk faktor eksternal, di antaranya pengaruh penggunaan bahasa Indonesia di lingkungan keluarga dan masyarakat. Dalam proses komunikasi sehari-hari, banyak keluarga yang menggunakan bahasa ibu (bahasa daerah) sebagai bahasa percakapan di lingkungan keluarga. Demikian juga halnya dengan penggunaan bahasa Indonesia di tengah-tengah masyarakat. Rata-rata bahasa ibulah yang digunakan sebagai sarana komunikasi. Kalau ada tokoh masyarakat yang menggunakan bahasa Indonesia, pada umumnya belum memperhatikan kaidah-kaidah berbahasa secara baik dan benar. Akibatnya, siswa tidak terbiasa untuk berbahasa Indonesia sesuai dengan konteks dan situasi tutur
Dari faktor internal, pendekatan pembelajaran, metode, media, atau sumber pembelajaran yang digunakan oleh guru memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap tingkat keterampilan berbicara bagi siswa SMP. Pada umumnya, guru bahasa Indonesia cenderung menggunakan pendekatan yang konvensional dan miskin inovasi sehingga kegiatan pembelajaran keterampilan berbicara berlangsung monoton dan membosankan. Para peserta tidak diajak untuk belajar berbahasa, tetapi cenderung diajak belajar tentang bahasa. Artinya, apa yang disajikan oleh guru di kelas bukan bagaimana siswa berbicara sesuai konteks dan situasi tutur, melainkan diajak untuk mempelajari teori tentang berbicara. Akibatnya, keterampilan berbicara hanya sekadar melekat pada diri siswa sebagai sesuatu yang rasional dan kognitif belaka, belum manunggal secara emosional dan afektif. Ini artinya, rendahnya keterampilan berbicara bisa menjadi hambatan serius bagi siswa untuk menjadi siswa yang cerdas, kritis, kreatif, dan berbudaya
Jika kondisi pembelajaran semacam itu dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkin keterampilan berbicara di kalangan siswa SMP akan terus berada pada aras yang rendah. Para siswa akan terus-menerus mengalami kesulitan dalam mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara lancar, memilih kata (diksi) yang tepat, menyusun struktur kalimat yang efektif, membangun pola penalaran yang masuk akal, dan menjalin kontak mata dengan pihak lain secara komunikatif dan interaktif pada saat berbicara.
Dalam konteks demikian, diperlukan pendekatan pembelajaran keterampilan berbicara yang inovatif dan kreatif, sehingga proses pembelajaran bisa berlangsung aktif, efektif, dan menyenangkan. Siswa tidak hanya diajak untuk belajar tentang bahasa secara rasional dan kognitif, tetapi juga diajak untuk belajar dan berlatih dalam konteks dan situasi tutur yang sesungguhnya dalam suasana yang dialogis, interaktif, menarik, dan menyenangkan. Dengan cara demikian, siswa tidak akan terpasung dalam suasana pembelajaran yang kaku, monoton, dan membosankan. Pembelajaran keterampilan berbicara pun menjadi sajian materi yang selalu dirindukan dan dinantikan oleh siswa.
Penelitian ini akan difokuskan pada upaya untuk mengatasi faktor internal yang diduga menjadi penyebab rendahnya tingkat kemampuan siswa SMPN 13 Banda Aceh, dalam berbicara, yaitu kurangnya inovasi dan kreativitas guru dalam menggunakan pendekatan pembelajaran sehingga kegiatan pembelajaran keterampilan berbicara berlangsung monoton dan membosankan. Salah satu pendekatan pembelajaran yang diduga mampu mewujudkan situasi pembelajaran yang kondusif; aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan adalah pendekatan pragmatik. Melalui pendekatan pragmatik, siswa diajak untuk berbicara dalam konteks dan situasi tutur yang nyata dengan menerapkan prinsip pemakaian bahasa secara komprehensif.
Dalam pendekatan pragmatik, guru berusaha memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan berbahasa di dalam konteks nyata dan situasi yang kompleks. Guru juga memberikan pengalaman kepada siswa melalui pembelajaran terpadu dengan menggunakan proses yang saling berkaitan dalam situasi dan konteks komunikasi alamiah senyatanya.
Prinsip-prinsip pemakaian bahasa yang diterapkan dalam pendekatan pragmatik, yaitu (1) penggunaan bahasa dengan memperhatikan aneka aspek situasi ujaran; (2) penggunaan bahasa dengan memperhatikan prinsip-prinsip kesantunan; (3) penggunaan bahasa dengan memperhatikan prinsip-prinsip kerja sama; dan (4) penggunaan bahasa dengan memperhatikan faktor-faktor penentu tindak komunikatif
Melalui prinsip-prinsip pemakaian bahasa semacam itu, pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan berbicara diharapkan mampu membawa siswa ke dalam situasi dan konteks berbahasa yang sesungguhnya sehingga keterampilan berbicara mampu melekat pada diri siswa sebagai sesuatu yang rasional, kognitif, emosional, dan afektif.
Melalui penggunaan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan berbicara, para siswa SMP akan mampu menumbuhkembangkan potensi intelektual, sosial, dan emosional yang ada dalam dirinya, sehingga kelak mereka mampu berkomunikasi dan berinteraksi sosial secara matang, arif, dan dewasa. Selain itu, mereka juga akan terlatih untuk mengemukakan gagasan dan perasaan secara cerdas dan kreatif, serta mampu menemukan dan menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif yang ada dalam dirinya dalam menghadapi berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.
2.             Rumusan Masalah
a.       Langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan dalam menggunakan pendekatan pragmatik dalam upaya meningkatkan keterampilan berbicara bagi siswa SMPN 13 Banda Aceh?
b.      Apakah penggunaan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat meningkatkan keterampilan berbicara bagi siswa SMPN 13 Banda Aceh?

3.             Tujuan Penelitian
a.       Untuk mengidentifikasi langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam menggunakan pendekatan pragmatik upaya meningkatkan keterampilan berbicara bagi siswa SMPN 13 Banda Aceh;
b.      Untuk memaparkan hasil keterampilan berbicara siswa SMPN 13 Banda Aceh setelah pendekatan pragmatik digunakan dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia.

4.             Manfaat Penelitian
Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.       Para guru bahasa Indonesia dapat mengetahui langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam menggunakan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan berbicara, khususnya bagi siswa SMP;
b.      Keterampilan berbicara siswa SMPN 13 Banda Aceh, yang menjadi subjek penelitian ini mengalami peningkatan yang signifikan;
c.       Para guru bahasa Indonesia SMP diharapkan menggunakan pendekatan pragmatik dalam menyajikan aspek keterampilan berbicara, bahkan guru bahasa Indonesia di tingkat satuan pendidikan yang lebih rendah, seperti SD, atau yang lebih tinggi, seperti SMA/SMK/MA, diharapkan juga menggunakan hasil penelitian ini dalam upaya melakukan inovasi pembelajaran Bahasa Indonesia.


5.             Penegasan Istilah
Adapun definisi dan batasan istilah yang berkaitan dengan judul dalam penulisan skripsi ini sebagai berikut:
a.       Keterampilan adalah kecakapan atau kemampuan untuk melakukan sesuatu dalam bidang keahlian tertentu;
b.      Berbicara yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suatu penyampaian maksud (ide, pikiran) dari anak kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan sehingga maksud tersebut dapat dipahami orang lain;
c.       Pendekatan pragmatik merupakan salah satu pendekatan dalam bahasa yang memfokuskan pada keterampilan berkomunikasi yang menekankan pada kebermaknaan dan penyampaian makna (fungsi) menggunakan bahasa.

6.             Landasan Teori
6.1.      Pendekatan pragmatik
Pendekatan pragmatik sebagai salah satu bagian dari ilmu sastra  merupaka kajian sastra yang menitikberatkan dimensi pembaca sebagai penangkap dan pemberi makna karya sastra (Teew, 1984:50). Dengan kajian ini, otonomi karya sastra tidak relevan; karya sastra memang mempunyai struktur, tetapi struktur saja tidak dapat berbuat banyak. Dengan munculnya pendekatan pragmatik, maka bermula pula kawasan kajian sastra ke arah peranan pembaca seba-gai subjek yang selalu berubah-ubah sesuai dengan keberadaannya.
Sebagai suatu pendekatan untuk mencari kebenaran dalam teks sastra, pendekatan pragmatik memiliki relevansi dengan sistem kefilsafatan prag-matik. Heraclitus dalam Graff et.al. (1966:167) me-ngembangkan teori kefilsafatan yang mirip dengan pragmatik modern. Konsep Heraklitus yang terkenal adalah ”Tidak ada realitas yang bersifat absolut, demi-kian juga halnya dengan kebenaran nilai-nilai. Rea-litas, kebenaran, dan nilai-nilai merupakan sesuatu yang selalu berubah, sehingga perubahan itu sendirilah yang bersifat permanen”. Dengan kata lain, hanya dengan indra penyerapan (the sense of perception) itulah yang memiliki pengetahuan dan yang meng-adari karakter perubahan pengetahuan.
Dari beberapa pendapat diatas dapat di simpulkan bahwa  Pendekatan pragmatik adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Dalam hal ini tujuan tersebut dapat berupa tujuan politik, pendidikan, moral, agama maupun tujuan yang lain. Dalam praktiknya pendekatan ini cenderung menilai karya sastra menurut keberhasilannya dalam mencapai tujuan tertentu bagi pembacanya 
6.2.      Keterampilan Berbicara
Keterampilan berbicara adalah kemampuan mengungkapkan pendapat atau pikiran dan perasaan kepada seseorang atau kelompok secara lisan, baik secara berhadapan ataupun dengan jarak jauh. Moris dalam Novia (2002) menyatakan bahwa berbicara merupakan alat komunikasi yang alami antara anggota masyarakat untuk mengungkapkan pikiran dan sebagai sebuah bentuk tingkah laku sosial. Sedangkan, Wilkin dalam Maulida (2001) menyatakan bahwa tujuan pengajaran bahasa Inggris dewasa ini adalah untuk berbicara. Lebih jauh lagi Wilkin dalam Oktarina (2002) menyatakan bahwa keterampilan berbicara adalah kemampuan menyusun kalimat-kalimat karena komunikasi terjadi melalui kalimat-kalimat untuk menampilkan perbedaan tingkah laku yang bervariasi dari masyarakat yang berbeda.
Dari beberapa pendapat diatas dapat di simpulkan bahwa keterampilan berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang harus dikuasai siswa karena kompetensi keterampilan berbicara adalah komponen terpenting dalam tujuan pembelajaran bahasa Indonesia. Pembelajaran keterampilan berbicara perlu mendapat perhatian agar siswa mampu berkomunikasi dengan baik. Perkembangan teknologi informasi yang lebih canggih saat ini seperti media cetak, media elektronik, dan berbagai hiburan telah menggusur kegiatan berbicara siswa. Hal demikian diperburuk oleh sikap orang tua yang tidak memperhatikan anak-anaknya karena orang tua sibuk bekerja. Orang tua membiarkan anak-anaknya larut dalam tayangan televisi yang dapat menghambat perkembangan keterampilan berbahasa yang bersifat produktif, salah satunya adalah keterampilan berbicara.
7.             Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan suatu cara kerja untuk memahami objek yang menjadi sasaran yang bersangkutan. Dengan menggunakan metode yang tepat akan memperoleh hasil yang sesuai dengan yang diharapkan, sebab metode penelitian sebagai petunjuk yang memeberikan arah, corak, dan  tahapan kerja suatu penelitian. Metode penelitian yang digunakan, yaitu metode penelitian tindakan kelas (action research).
Proses penelitian tindakan kelas ini direncanakan berlangsung dalam dua siklus. Tiap siklus  terdiri  atas empat tahap, yaitu (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Proses kegiatan tindakan kelas yang peneliti lakukan adalah bertolak dari permasalahan yang dipecahkan, kemudian peneliti merencanakan suatu tindakan dan melaksanakannya. Pada pelaksanaan tindakan peneliti melakukan penyampaian materi, tes perbuatan, dan observasi terhadap kegiatan yang dilakukan. Tahap berikutnya, berdasarkan hasil observasi, dan jurnal peneliti merefleksi kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Permasalahan - permasalahan yang muncul pada siklus I merupakan permasalahan yang harus  dipecahkan pada siklus II. Selanjutnya, kegiatan dimulai lagi seperti kegiatan pada  siklus I, yakni perencaaan, tindakan, observasi, dan refleksi dengan perubahanperubahan untuk mengatasi permasalahan yang muncul pada siklus I.

8.             Lokasi dan Subjek Penelitian
Lokasi penelitian adalah siswa SMPN 13 Banda Aceh. Subjek penelitian adalah siswa siswa Kelas VII SMPN 13 Banda Aceh. yang terdiri atas 40 siswa, dengan rincian 18 siswa laki-laki dan 22 siswa perempuan.
9.             Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang valid, data dikumpulkan melalui cara/teknik berikut ini:
a.       Tes
Teknik tes digunakan untuk mengetahui tingkat keterampilan siswa dalam menceritakan pengalaman yang mengesankan kepada orang lain. Aspek-aspek yang dinilai, yaitu kelancaran berbicara, ketepatan pilihan kata (diksi), struktur kalimat, kelogisan (penalaran), dan kontak mata.
b.      Nontes
Teknik nontes yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain sebagai berikut:
v  Observasi (pengamatan): teknik ini digunakan oleh kolaborator untuk mengobservasi pelaksanaan tindakan yang dilakukan oleh peneliti.
v  Wawancara: teknik ini digunakan oleh peneliti dan kolaborator untuk mengetahui respon siswa secara langsung dalam berbicara dengan menggunakan pendekatan pragmatik. Wawancara terutama dilakukan kepada siswa yang menonjol karena kelebihan atau kekurangannya. Pelaksanaan wawancara dilakukan di luar kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pedoman wawancara.
v  Jurnal: teknik ini digunakan oleh peneliti setiap kali selesai mengimplementasikan tindakan. Jurnal tersebut dijadikan sebagai bahan refleksi diri bagi peneliti untuk mengungkap aspek:
a.    respon siswa terhadap penggunaan pendekatan pragmatik;
b.   situasi pembelajaran; dan
c.    kekurangpuasan peneliti terhadap pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan. Selain peneliti, siswa juga membuat jurnal setiap kali mengikuti kegiatan pembelajaran yang digunakan untuk mengungkapkan .Respon siswa (baik yang positif maupun negatif) terhadap penggunaan pendekatan pragmatic, metode pembelajaran yang disukai siswa dan kemampuan peneliti dalam menciptakan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.


10.         Teknik Analisis Data
Ada 2 (dua) jenis data dalam penelitian ini. Data  kualitatif  dan data  kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari hasil jurnal kegiatan pada setiap tindakan  (treatment) di masing-masing siklus.  Sedangkan data kuantitatif  diperoleh dari  data hasil tes awal siswa, tes akhir I, dan tes akhir II dan kuesioner. Kedua data  tersebut  dianalisis secara deskriptif. Hasil dari  kuesioner dianalisis  secara  deskriptif dengan membandingkan hasil  kuesioner tes awal, kuesioner tes akhir I  dan kuesioner tes akhir II.
Data  kuantitatif dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui  ,peningkatan keterampilan berbicara yang dikuasai siswa dari perbandingan hasil  tes awal dan tes akhir.


0 komentar:

Poskan Komentar